Selasa, 28 April 2015

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN
Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan.  Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu. Sedangkan kependudukan berarti status seseorang dalam suatu negara. Jadi, pendidikan kependudukan merupakan suatu program pendidikan yang berusaha mempelajari situasi tentang kependudukan dengan tujuan membangkitkan kesadaran masyarakat tentang masalah yang berkaitan dengan kependudukan dan menyangkut aspek social, ekonomi, budaya, dan pelestarian lingkungan demi kepentingan bersama yaitu kesejahteraan masyarakat.
Materi pendidikan kependudukan erat kaitannya dengan terciptanya keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Namun, para ahli kependudukan mengemukakan ada sekitar 4 masalah kependudukan, diantaranya :
1)                  Pertumbuhan penduduk yang pesat akibat kelahiran bayi yang tinggi (baby boom)
Berdasarkan hasil sensus pada tahun 2010 bertambah 32,5 juta jiwa sedangkan rata-rata pertumbuhannya 1,49 persen, apabila rata-rata pertumbuhannya tetap 1,49 persen diperkirakan jumlah penduduk tahun 2045 mencapai 450 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk yang tinggi terjadi karena kelahiran yang tinggi, terdapat beberapa sebab mengapa angka kelahiran masih tinggi, yaitu :
ü  Pernikahan Dini
Hakikat dari perkawinan adalah untuk membentuk rumah tangga yang harmonis penuh dengan kedamaian, cinta, kasih sayang, dan penuh tanggungjawab antara suami dan isteri. Dalam suatu pernikahan diperlukan berbagai persiapan :
a)      Aspek fisik
Salah satu persiapan dari aspek fisik adalah umur, 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Seorang perempuan disarankan menikah pada usia 20 tahun karena pada usia tersebut telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya. Selain itu, untuk menunjang agar memiliki tubuh yang sehat harus didukung dengan makan makanan yang bergizi, misalnya bagi seorang perempuan makan makanan yang meningkatkan kesuburannya.
b)      Aspek Psikologi
Suatu rumah tangga akan sejahtera apabila pasangan suami-isteri tersebut memahami nilai atau norma-norma, saling membina cinta dan kasih sayang, serta dapat menjaga ketahanan keluarga.
c)      Aspek Ekonomi
Seorang suami berkewajiban menafkahi isterinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Oleh karena itu, dalam suatu pernikahan diperlukan persiapan ekonomi sehingga dapat mengatasi dan memenuhi keutuhan sehari-harinya. Persiapan-persiapan tersebut meliputi tabungan masa depan, penghasilan tetap, dan lain sebagainya.
d)     Aspek Sosial
Aspek social meliputi pengenalan keluarga masing-masing, perubahan status social, dan persyaratan dan administrasi perkawinan.
           
                  Fakta yang terjadi di Kabupaten Purworejo terkait pernikahan dini adalah terjadi peningkatan setiap tahunnya tentang dispensasi pernikahan dini. Berikut ini adalah grafik kasus permohonan dispensasi pernikahan dini di Purworejo






Banyak pasangan muda yang memilih nikah muda tanpa persiapan yang matang, termasuk minimnya pengetahuan tentang program KB (Keluarga Berencana), sehingga menjadikan mereka mempunyai jumlah anak yang banyak.
ü  Program KB kurang berhasil
Progran KB bertujuan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, tepatnya menekan tingkat kelahiran bayi. Pemerintah menganjurkan dalam program KB tersebut dengan “2 anak cukup” . Banyak kalangan masyarakat masih berkeyakinan “banyak anak, banyak rezeki” , sangat susah mengubah keyakinan masyarakat tersebut.
2)                  Persebaran penduduk tidak merata

Di Indonesia pulau terpdat penduduknya adalah Pulau Jawa.