PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN
Pada hakikatnya,
pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
manusia mencapai kedewasaan. Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan
hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa
awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu. Sedangkan kependudukan berarti
status seseorang dalam suatu negara. Jadi, pendidikan kependudukan merupakan
suatu program pendidikan yang berusaha mempelajari situasi tentang kependudukan
dengan tujuan membangkitkan kesadaran masyarakat tentang masalah yang berkaitan
dengan kependudukan dan menyangkut aspek social, ekonomi, budaya, dan
pelestarian lingkungan demi kepentingan bersama yaitu kesejahteraan masyarakat.
Materi
pendidikan kependudukan erat kaitannya dengan terciptanya keluarga kecil
bahagia dan sejahtera. Namun, para ahli kependudukan mengemukakan ada sekitar 4
masalah kependudukan, diantaranya :
1)
Pertumbuhan penduduk yang pesat akibat
kelahiran bayi yang tinggi (baby boom)
Berdasarkan
hasil sensus pada tahun 2010 bertambah 32,5 juta jiwa sedangkan rata-rata
pertumbuhannya 1,49 persen, apabila rata-rata pertumbuhannya tetap 1,49 persen
diperkirakan jumlah penduduk tahun 2045 mencapai 450 juta jiwa. Pertumbuhan
penduduk yang tinggi terjadi karena kelahiran yang tinggi, terdapat beberapa
sebab mengapa angka kelahiran masih tinggi, yaitu :
ü Pernikahan
Dini
Hakikat dari perkawinan
adalah untuk membentuk rumah tangga yang harmonis penuh dengan kedamaian,
cinta, kasih sayang, dan penuh tanggungjawab antara suami dan isteri. Dalam
suatu pernikahan diperlukan berbagai persiapan :
a) Aspek
fisik
Salah satu persiapan
dari aspek fisik adalah umur, 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi
laki-laki. Seorang perempuan disarankan menikah pada usia 20 tahun karena pada
usia tersebut telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya. Selain itu, untuk
menunjang agar memiliki tubuh yang sehat harus didukung dengan makan makanan
yang bergizi, misalnya bagi seorang perempuan makan makanan yang meningkatkan
kesuburannya.
b) Aspek
Psikologi
Suatu rumah tangga akan
sejahtera apabila pasangan suami-isteri tersebut memahami nilai atau
norma-norma, saling membina cinta dan kasih sayang, serta dapat menjaga
ketahanan keluarga.
c) Aspek
Ekonomi
Seorang suami
berkewajiban menafkahi isterinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Oleh
karena itu, dalam suatu pernikahan diperlukan persiapan ekonomi sehingga dapat
mengatasi dan memenuhi keutuhan sehari-harinya. Persiapan-persiapan tersebut
meliputi tabungan masa depan, penghasilan tetap, dan lain sebagainya.
d) Aspek
Sosial
Aspek social meliputi
pengenalan keluarga masing-masing, perubahan status social, dan persyaratan dan
administrasi perkawinan.
Fakta yang
terjadi di Kabupaten Purworejo terkait pernikahan dini adalah terjadi
peningkatan setiap tahunnya tentang dispensasi pernikahan dini. Berikut ini
adalah grafik kasus permohonan dispensasi pernikahan dini di Purworejo
Banyak pasangan muda yang memilih nikah
muda tanpa persiapan yang matang, termasuk minimnya pengetahuan tentang program
KB (Keluarga Berencana), sehingga menjadikan mereka mempunyai jumlah anak yang
banyak.
ü Program
KB kurang berhasil
Progran KB bertujuan
untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, tepatnya menekan tingkat
kelahiran bayi. Pemerintah menganjurkan dalam program KB tersebut dengan “2
anak cukup” . Banyak kalangan masyarakat masih berkeyakinan “banyak anak,
banyak rezeki” , sangat susah mengubah keyakinan masyarakat tersebut.
2)
Persebaran penduduk tidak merata
Di
Indonesia pulau terpdat penduduknya adalah Pulau Jawa.
